Dede Yusuf Kunjungi Keluarga Korban Ledakan Pabrik Kembang Api Asal Cililin Kab. Bandung Barat

IMG-20171102-WA0001

BANDUNG – DPR mempertimbangkan pemerintah lalai dalam melakukan pengawasan agar terjadi insiden ledakan pabrik kembang api di Kosambi, Tangerang, Banten, yang memperanakkan korban jiwa. Hal itu ditegaskan Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf Macan Efendi saat berada di keluarga korban ledakan itu di Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, KBB, Rabu 1 November 2017 sakit.

 

Dede menilai, jika direksi berjalan dengan baik dan sesuai dengan standar pemeriksaan maka bisa meledak. Dirinya pun banyak mendapat laporan jika pengawas yang datang ke perusahaan sesekali hanya datang ke manajemen perusahaan tapi tidak melakukan pelengkap.

 

“Saya melihat pemerintah telah lalai karena pengawasan yang dilakukan tidak maksimal sehingga banyak temuan-temuan yang tidak sesuai data awal,” terangnya.

 

Untuk itu, dia meminta, agar bisa dilakukan secara berkala bahkan per enam bulan. Saat diakuinya saat ini jumlah personel pengawas masih minim karena baru ada sebanyak 1.193 petugas yang harus mengawasi lebih 280.000 pabrik di seluruh indonesia.

 

Adanya insiden ini, diperlukan beberapa hal yang perlu dilakukan. Selain itu, evaluasi juga dilakukan pada jumlah dan performa pengawas industri yang ada. Termasuk juga hak-hak korban dan jaminan BPJS yang diberikan kepada para pekerja.

 

“Dari 13 warga Cililin yang menjadi korban, enam orang meninggal dan hanya dua orang yang ikut BPJS ini juga harus jadi perhatian karena belum semua perusahaan kepesertaan pekerjanya,” kata dia.

 

Seperti kabar meledaknya gudang petasan di Kosambi, Tangerang, baca enam warga Cililin mati. Mereka adalah Naya Sunarya (28), Ade Rosita (20), Gunawan (17), Oleh (25), dan Ega (24), warga Kampung Cisitu RW 09, Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, KBB. Sementara seorang lagi Iyus Hermawan, (25), Kampung Lembang RT01 / 19, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, KBB. (Sindonews)

Luki Luk